Di sebuah koridor kantor pemerintahan yang sejuk oleh embusan AC, aroma parfum mahal bercampur dengan bau kertas baru. Pak Budi melangkah dengan dagu sedikit terangkat. Setelan jas safari miliknya begitu rapi tanpa celah, mencerminkan sebuah kemapanan yang kokoh.

Di dalam hatinya, ada kebanggaan terselip—sebuah perasaan halus bahwa posisinya sebagai abdi negara menempatkannya di derajat yang lebih mulia daripada orang-orang biasa di luar sana. Dia adalah penjaga gerbang kekuasaan, orang yang memiliki jaminan masa depan, kenyamanan hidup, dan gaji yang stabil setiap bulan.

Namun, kemuliaan itu runtuh seketika saat ia berdiri di depan pintu ruang kepala dinas. Ketika nama pimpinannya disebut, ada ketakutan yang tak kasat mata namun mengikat kuat. Bagi Pak Budi dan rekan-rekannya, kepatuhan adalah dogma tertinggi. Tak ada yang berani menginstrupksi pimpinan, apalagi mengoreksi kekeliruan dari atas.

Di dunia mereka, kompetensi dan keahlian sering kali menjadi nomor dua. Ketika sudah mengenakan seragam ASN, yang paling utama dan utama bukan lagi seberapa pintar Anda bekerja, melainkan seberapa tinggi loyalitas dan royalitas Anda kepada atasan. Semua berjalan atas dasar ketakutan kehilangan kenyamanan. Baginya, kebenaran adalah apa pun yang dikatakan oleh atasan.

Di ujung koridor, duduk seorang pria yang menjadi antitesis total dari seluruh kemapanan ruangan itu.

Adian Junior, seorang anggota advokasi dari sebuah Organisasi Kepemudaan, duduk dengan kemeja yang sudah luntur warnanya dan celana kain yang sedikit koyak di bagian bawah. Wajahnya lusuh, rambutnya agak berantakan, dan penampilannya terkesan serampangan—seperti tipikal orang yang tidak punya masa depan di mata masyarakat modern.

Dia datang sendiri, tanpa pasukan, membawa tas ransel berat berisi tumpukan berkas tuntutan transparansi. Dia tidak punya gaji tetap, tidak ada jaminan hari tua, dan hidupnya akrab dengan ketidakpastian.

Pak Budi menatap Adian Junior dari kejauhan dengan tatapan merendahkan, sementara Adian menatap balik dengan mata yang menyala.

“Mas Adian,” ujar Pak Budi saat menghampirinya, suaranya terdengar bijaksana namun sarat akan arogansi terselubung. “Untuk apa Anda terus menerjang maju ke gelanggang ini sendirian? Menentang arus hanya akan membuat Anda lelah. Lihat diri Anda, apa yang Anda cari dalam ketidakpastian ini?”

Adian Junior berdiri, membetulkan letak tasnya yang berat.

“Saya mencari kebenaran yang sengaja Anda sembunyikan di balik prosedur, Pak. Anda bangga dengan jas safari, ruangan ber-AC, dan kenyamanan hidup yang Anda kumpulkan. Tapi pernahkah Anda bertanya, siapa pemilik mandat pemerintahan yang sah? Mereka adalah masyarakat di luar sana, yang hak-haknya terabaikan karena Anda lebih takut pada pimpinan daripada takut pada hukum.”

Adian melangkah satu tindakan lebih dekat.

“Anda merasa mulia karena pakaian dan jabatan, merasa aman karena memelihara loyalitas dan royalitas buta pada atasan hingga abai pada kompetensi nyata. Tapi sejatinya, memastikan kebenaran terus berjalan bukan untuk diri saya sendiri, melainkan untuk semua masyarakat yang akan merasakan dampaknya nanti. Saya berani memilih hidup dalam ketidakpastian ini karena saya yakin masyarakat harus disejahterakan.”

Pak Budi terdiam, merasa terusik oleh kelancangan pria lusuh di hadapannya. “Kami hanya menjalankan peran kami menjaga stabilitas, Mas. Dunia tidak seideal isi kepala Anda.”

“Benar, kita semua memang punya peran masing-masing,” sahut Adian dengan senyum getir.

“Tapi ingatlah satu hal, Pak: belum tentu yang dipandang hina dan lusuh itu adalah mereka yang nista, dan belum tentu mereka yang berpakaian rapi dan wangi adalah mereka yang mulia.

Civil society seperti kami tidak perlu ada jika semua hal di negeri ini sudah baik-baik saja. Namun, manakala ada ketidakadilan, kehadiran kami adalah keniscayaan—sebuah tubuh yang gelisah yang tidak akan membiarkan kezaliman tidur dengan nyenyak.”

Matahari sore menerobos jendela kaca koridor, memantulkan bayangan dua manusia yang kontras. Yang satu adalah lambang kepatuhan dan kemapanan yang rapuh di hadapan kekuasaan, dan yang satu lagi adalah simbol perlawanan yang tegak berdiri di atas keyakinan, walau harus berjalan dalam sunyi dan kefakiran.

Adian Junior membalikkan badan, berjalan keluar menembus pintu kaca menuju terik jalanan, meninggalkan Pak Budi yang terpaku di dalam ruang AC-nya yang mendadak terasa begitu sempit dan mencekam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Twitter Instagram Linkedin Youtube